Renungan Minggu Sesudah Pentakosta

“KEHIDUPAN YANG BERKEADILAN DAN BERKEADABAN”
( Ulangan 16 : 18 – 20 )

Hukum Tuhan menjadi tolak ukur keberhasilan atau kegagalan umat Israel sebagai suatu bangsa. Mematuhi ketentuan-ketentuan dalam perjanjian Allah dengan Israel akan membuahkan keberhasilan. Sebaliknya, ketidaktaatan pada hukum Tuhan akan membuahkan kehancuran bahkan kematian.

Salah satu penjabaran hukum Tuhan yang diberikan kepada Musa di gunung Sinai adalah ketentuan tentang pengangkatan hakim dan proses mengadili. Hakim harus adil dan jujur. Hakim tidak boleh menerima suap (uang sogok). Suap dapat membuat seseorang memutarbalikkan kebenaran. Perbuatan demikian menghambat penegakan keadilan dan tidak selaras dengan maksud Tuhan memberikan negeri perjanjian. Akibatnya merugikan kehidupan orang banyak, bahkan kehancuran Israel sebagai bangsa pilihan Allah.

Hal suap menjadi penting di soroti sejak zaman perjanjian lama. Sebab suap dapat mempengaruhi pejabat publik dalam kebijakan maupun keputusannya. Istilah yang sering didengungkan sekarang adalah gratifikasi. Perbedaannya, gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas. Gratifikasi dapat di anggap sebagai suap apabila pemberian tersebut mempengaruhi pejabat publik berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya. Dimana hal tersebut berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum.

Jika hakim maupun pemimpin menerima suap ataupun gratifikasi, maka sesungguhnya kematian sudah dimulai dari hati nurani. Itu akan berlanjut pada pembunuhan karakter, kehancuran masa depan seseorang, keluarga, persekutuan jemaat, masyarakat dan bangsa. Berbahaya bila rasa kemanusiaan itu sudah  tidak ada lagi. Akibatnya, hukum tidak dipatuhi dan terjadi chaos, bahkan kematian. Oleh  karena itulah penting bagi siapapun untuk menjadikan nas ini sebagai pedoman dalam memajukan kehidupan berjemaat, berbangsa dan bernegara, maupun hubungan internasional. Nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab harus di junjung tinggi. Pemberian apapun untuk maksud melawan hukum harus ditolak demi kasih kepada sesama dan memuliakan Sang Juruselamat.


                                                                 

PEMBACAAN ALKITAB (MINGGU SESUDAH PENTAKOSTA)

 

HARI / TANGGAL

BACAAN PAGI

BACAAN MALAM

1.

Minggu, 23 Juni 2019

Ulangan 16 : 18 – 19

Ulangan 16 : 20

2.

Senin, 24 Juni 2019

Ulangan 17 : 8 – 10

Ulangan 17 : 11 – 13

3.

Selasa, 25 Juni 2019

Amos 5 : 7 – 13

Amos 5 : 14 – 17

4.

Rabu, 26 Juni 2019

Amos 5 : 21 – 24

Amos  5 : 25 – 27

5.

Kamis, 27 Juni 2019

Hosea 4 : 1 – 6

Hosea 4 : 7 – 10

6.

Jumat, 28 Juni 2019

Hosea 7 : 3 – 7

Hosea 7 : 8 – 16

7.

Sabtu, 29 Juni 2019

Hakim-Hakim 10 : 1 – 5

Hakim-Hakim 11 : 1 – 11