BERHIKMAT

Agama seperti yang kita dapatkan baik di Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru selalu memiliki hubungan yang sehat dengan hikmat-kebijaksanaan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kitab Amsal, di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberi wejangan-wejangan yang terkumpul dalam Khotbah di Bukit (dan tentu saja banyak wejangan di luar itu, misalnya perumpamaan-perumpamaan) dan rasul Paulus pun dalam surat-suratnya banyak berbicara mengenai hikmat. Berarti hikmat-kebijaksanaan tidak perlu dipertentangkan dengan kehendak Tuhan. Manusia yang belajar dari pengalaman-pengalaman hidup bukanlah berada di luar Tuhan. Memang Tuhan mewahyukan Diri dan kehendak-Nya kepada manusia, tetapi di samping itu tanggapan manusia terhadap pewahyuan ini juga dihargai, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang akhirnya, kalau diusut-usut, juga berasal atau diilhamkan oleh Tuhan.  

 

Maka orang beriman selalu diimbau untuk belajar menjadi bijaksana. Di Amsal 1:7 “takut akan Tuhan” diperlawankan dengan orang bodoh yang menghina hikmat dan didikan. Entah bagaimana, dalam praktik, “takut akan Tuhan” bukannya diperlawankan, malah disamakan dengan orang bodoh yang menghina hikmat dan didikan. Seakan-akan untuk bisa menjadi beriman, kita harus bodoh. Sebaliknya kita diminta menjadi cerdas dan kecerdasan ini kita peroleh dari pengalaman-pengalaman konkret dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman semacam ini tentunya amat berguna untuk diwariskan dan dipertimbangkan oleh generasi penerus. Agar warisan hikmat ini bisa lestari, maka baik pemimpin-pemimpin sekular maupun agama (kalangan praktisi) perlu bekerja sama erat dengan kalangan-kalangan yang mengkhususkan diri di bidang hikmat dan ilmu (kalangan akademisi). Kedua-duanya saling membutuhkan dan perlu saling mengingatkan, oleh karena keduanya bisa mandek, tidak mau belajar lagi dari pengalaman-pengalaman hidup konkret dalam konteks kehidupan sehari-hari. Akibatnya yang mereka berikan kepada masyarakat dan jemaat yang dipimpinnya adalah teori-teori yang tidak kontekstual. Sebaliknya, jika terjadi sinergi di antara praktisi dan akademisi, maka iklim pendidikan hikmat yang sehat di dalam kelompok gereja maupun masyarakat menjadi mungkin. Mestinya kecerdasan jemaat dan masyarakat menjadi cita-cita yang selalu harus diperjuangkan. (Bacaan Alkitab: Amsal 1:2-7).


PEMBACAAN ALKITAB (MINGGU EPIFANI)

 

  HARI / TANGGAL BACAAN PAGI BACAAN MALAM
1. Minggu, 10 Januari 2016 Amsal 1 : 2 – 7 Amsal 1 : 8 – 19
2. Senin, 11 Januari 2016 Amsal 1 : 20 – 27 Amsal 1 : 28 – 33
3. Selasa, 12 Januari 2016 Amsal 2 : 1 – 8 Amsal 2 : 9 – 22
4. Rabu, 13 Januari 2016 Amsal 3 : 1 – 10 Amsal 3 : 11 – 20
5. Kamis, 14 Januari 2016 Amsal 3 : 21 – 26 Amsal 3 : 27 – 35
6. Jumat, 15 Januari 2016 Amsal 4 : 1 – 9 Amsal 4 : 10 – 19
7. Sabtu, 16 Januari 2016 Amsal 4 : 20 – 23 Amsal 4 : 24 – 27