MUJIZAT PEMBERIAN MAKAN BAGI 5.000 ORANG

Kisah mujizat pemberian makan terdapat di keempat Injil dan diceritakan berdasarkan sudut pandang masing-masing. Di Injil Yohanes kita melihat bahwa Yesus sejak awal memang ingin membuat mujizat, ketika melihat orang banyak yang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Ketika ia bertanya kepada Filipus di mana bisa memberi makanan, narator atau pengisah Injil Yohanes menerangkan bahwa Yesus ingin mencobai Filipus, artinya ingin tahu apakah Filipus percaya bahwa Yesus bisa menyediakan makanan untuk keperluan orang sebanyak itu. Ternyata Filipus tidak menangkap maksud Yesus. Jawabannya adalah kurang lebih “tidak mungkin”. Simon Petrus melihat seorang anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apa gunanya?  

 

Dari reaksi Yesus, kita bisa melihat bahwa bagi Tuhan, bekal yang amat kecil dan tidak dapat dibandingkan dengan keperluan orang banyak di tempat itu, amat berguna. Dari yang sedikit, tumbuh yang banyak. Kita tidak diberitahu bagaimana Yesus mengadakan mujizat pelipat gandaan makanan. Tindakannya sederhana saja : Ia mengambil roti, mengucapkan syukur dan membagi-bagikannya, tahu-tahu semua mendapat bagian dan makan sampai kenyang, dan ternyata masih tersisa 12 bakul roti. Dalam banyak renungan dan khotbah, orang mencoba “menjelaskan” mujizat ini secara alamiah. Sebenarnya banyak orang yang hadir di tempat itu membawa bekalnya masing-masing, namun mereka tidak berpikir untuk membagi-bagikannya kepada yang lain. Tetapi setelah melihat anak kecil yang rela membagikan bekalnya, hati mereka tersentuh, dan akhirnya mereka pun berubah pikiran dan membagi-bagikan bekalnya kepada yang lain. Jadi sebenarnya ada mujizat namun bukan sedikit makanan yang secara ajaib menjadi berlipat ganda, melainkan perubahan dalam hati manusia, yang menyebabkan mereka rela membagikan apa yang ada pada mereka kepada orang lain. Tentu pada dirinya sendiri baik-baik saja kalau kita mengartikan mujizat dalam arti seperti di atas. Namun ada baiknya kita melihat bagaimana reaksi orang-orang yang melihat mujizat itu, seperti dikatakan di ayat 14: “Dia adalah nabi”. Mengapa mereka menyebut Yesus sebagai nabi? Tentulah yang diingat adalah nabi-nabi di jaman dulu, yang juga pernah membuat mujizat, seperti nabi Elia (lih. I Raja-Raja 16:7-16). (Bacaan Alkitab: Yohanes 6:1-15).


PEMBACAAN ALKITAB (MINGGU SESUDAH EPIFANI) 

  HARI / TANGGAL BACAAN PAGI BACAAN MALAM
1. Minggu, 24 Januari 2016 Yohanes 6 : 1 – 15 Yohanes 6 : 16 – 21
2. Senin, 25 Januari 2016 Yohanes 6 : 22 – 24 Yohanes 6 : 25 – 33
3. Selasa, 26 Januari 2016 Yohanes 6 : 34 – 40 Yohanes 6 : 41 – 51
4. Rabu, 27 Januari 2016 I Yohanes 1 : 1 – 4 I Yohanes 1 : 5 – 10
5. Kamis, 28 Januari 2016 I Yohanes 2 : 1 – 6 I Yohanes 2 : 7 – 17
6. Jumat, 29 Januari 2016 I Yohanes 3 : 1 – 3 I Yohanes 3 : 4 – 10
7. Sabtu, 30 Januari 2016 2 Yohanes 1 : 4 – 6 2 Yohanes 1 : 7 – 11