MENGHAKIMI YANG LAIN UNTUK MENUTUPI KELEMAHAN SENDIRI

Ungkapan “jangan menghakimi orang lain” sudah seringkali kita dengar. Ungkapan tersebut menjadi sesuatu yang sangat biasa bagi kita di lingkungan persekutuan Kristen. Namun, dapat dipertanyakan, apakah ungkapan itu memang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka baiklah kita mencari tahu mengapa kita selalu menghakimi, meskipun kita tidak ingin menghakimi.  

Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di dalam perikop ini, oleh para psikolog disebut sebagai “Kompensasi”. Kompensasi muncul akibat ketidakberhasilan kita untuk mencapai ukuran-ukuran yang kita anggap mulia dalam hidup kita. Seringkali ukuran-ukuran itu terlalu berat, melampaui apa yang dapat kita capai secara wajar dalam hidup kita sebagai manusia biasa. Anak sekolah jaman sekarang misalnya, dituntut menguasai banyak sekali keterampilan dan semua hasil perjuangannya dicatat sebagai penentu peringkat atau “ranking”nya. Kalau dia berhasil, maka dia masuk peringkat; kalau gagal peringkatnya turun. Oleh karena turun peringkat ini besar dampaknya bagi si anak, maka biasanya dia bereaksi secara kompensatif. Dia mulai menyalahkan semua orang lain, teman-temannya, orangtuanya bahkan gurunya sebagai penyebab mengapa dia gagal. Menurut para pendidik yang prihatin dengan sistem pendidikan di Indonesia, bukan anak itu yang salah, melainkan sistemnya yang salah, membuat otak anak harus mencerna beban yang berada di luar kapasitasnya. Kalau sistemnya betul dan tepat, anak tidak perlu kompensasi dan karena itu tidak perlu menghakimi yang lain.

Kita warga jemaat bukan anak sekolah. Tetapi sistem yang ada dalam kehidupan kita bergereja dan bermasyarakat sering menuntut kita agar menguasai terlalu banyak hal supaya kita dapat dianggap sebagai orang yang berhasil. Padahal sebagai manusia kita pasti memiliki kelemahan-kelemahan. Itu sebenarnya wajar, namun sistem menyebabkan tidak suka pada kesadaran bahwa kita mempunyai kelemahan-kelemahan. Maka yang terjadi adalah kompensasi : kelemahan kita pindahkan ke orang lain. Dia yang salah, dia yang payah! Supaya kita tidak jatuh ke dalam menghakimi, baiklah kita menerima kelemahan-kelemahan kita yang wajar sebagai manusia. Kalau kita menerima kelemahan kita, maka tidak ada dorongan untuk mentransfer kelemahan itu ke orang lain. Jika terjadi kesalahan, bersama-sama kita memperbaikinya. (Bacaan Alkitab: Lukas 6:37-42).


PEMBACAAN ALKITAB (MINGGU SESUDAH EPIFANI)

  HARI / TANGGAL BACAAN PAGI BACAAN MALAM
1. Minggu, 17 Januari 2016 Lukas 6 : 37 – 42 Lukas 6 : 43 – 45
2. Senin, 18 Januari 2016 Lukas 6 : 46 – 49 Lukas 7 : 1 – 5
3. Selasa, 19 Januari 2016 Lukas 7 : 6 – 10 Lukas 7 : 11 – 17
4. Rabu, 20 Januari 2016 Efesus 5 : 1 – 7 Efesus 5 : 8 – 14
5. Kamis, 21 Januari 2016 Efesus 5 : 15 – 21 Efesus 5 : 22 – 33
6. Jumat, 22 Januari 2016 Efesus 6 : 1 – 9 Efesus 6 : 10 – 20
7. Sabtu, 23 Januari 2016 Efesus 6 : 21 – 22 Efesus 6 : 23 – 24