PESAN NATAL 2018

TEMA: Membangun Spritualitas Damai yang menciptakan Pendamai (Yakobus 3: 13-18)

Salam sejahtera.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Peristiwa kelahiran Yesus “menyentuh” relung hati kita tentang cinta kasih sang Ilahi yang besar dan bagaimana cara Ia berkarya. Ia memilih jalan inkarnasi dan kerendahan berbalutkan kesahajaan yang dilakukan dengan penuh totalitas. Patutlah kita merasa takjub dan kagum sekaligus penuh haru karena di mata-Nya, kita yang berdosa ini ternyata begitu berharga dan dikasihi-Nya. Ia secara proaktif memperdamaikan diri kita yang hina, dengan diri-Nya. Melalui karya-Nya, kita beroleh pendamaian dengan Dia, diri kita sendiri, sesama dan juga seluruh ciptaan.

Kedatangan Kristus menunjukkan keteladanan dan memberikan motivasi bagaimana membangun spiritualitas damai yang menciptakan pendamai. Ia mendatangi dan menghampiri, bukan menghindari apalagi menjauhi. Ia “membuka” tangan untuk merangkul, merengkuh dan memeluk kita dengan penuh kehangatan, bukan menyakiti apalagi melukai. Ia “mengulurkan” tangan untuk mengangkat dan menegakkan, bukan menindas apalagi mengeksploitasi. Sejalan dengan itu, Ia sedia untuk tertolak, dan tersakiti.

Deklarasi iman kita sebagai pengikut-Nya semestinya seiring sejalan dengan terbangunnya spiritualitas. Tak terkecuali dalam hal menjadi pendamai. Itu artinya, dengan penghayatan Natal Kristus di tahun ini, kita semakin diteguhkan dalam berdisiplin membangun spiritualitas damai di dalam diri kita sendiri. Tujuannya adalah untuk dapat mengikuti jejak langkah sang Mahaguru untuk menghadirkan damai di bumi sebagaimana kehendak-Nya di sorga. Dalam keseharian, spiritualitas damai itu mewujud dalam karakter seorang yang membawa damai: proaktif dalam mendatangi, bersedia untuk merangkul dan merengkuh, berkerinduan untuk mengangkat dan menegakkan, dan memiliki kebesaran hati, di saat tersakiti tetap setia dan taat pada-Nya tanpa kecuali.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Spiritualitas damai yang menciptakan pendamai, itu berawal dari diri sendiri. Ia bukan menunggu dan menuntut yang lain untuk melakukannya terlebih dahulu. Geloranya sungguh kuat, membara di dalam diri, menghadirkan kesejukan di dalam kata dan tindakan. Ia bisa diawali dengan hal yang nampaknya kecil dan sederhana, seperti kata-kata: “tolong”, “maaf” dan “terima kasih”, namun di tangan Tuhan, hal yang kecil dapat menjadi kemuliaan bagi nama-Nya. Ia juga bisa diwujudkan dengan hal-hal yang besar dan spektakuler seperti mendamaikan relasi suami-istri, pertikaian antar kelompok, dengan keinsafan penuh bahwa semuanya dapat dilakukan hanya karena kemurahan Tuhan dan bagi keagungan nama-Nya semata.

Sangat penting untuk disadari bahwa kehadiran setiap kita sebagai pembawa damai begitu dinantikan, baik oleh keluarga, gereja, dan masyarakat, bahkan alam dan ciptaan lainnya. Tidak sedikit perseteruan dan konflik yang masih berlarut-larut dalam relasi keluarga dan berbagai elemen sosial. Kita juga mendengar dan melihat terjadinya tindakan keji yang dilakukan antar sesama manusia, deru perang di sana-sini oleh karena nafsu untuk berkuasa dalam diri manusia. Ditambah lagi, bumi dan seisinya yang menjerit akibat eksploitasi yang menguras dan merusak oleh karena ketamakan manusia. Memang, tantangan dan godaan kedagingan dapat menghalau manusia dalam menemukan dan mengupayakan kedamaian. Di sisi lain, menjadi pendamai tidak jarang dirasakan seperti sedang menempuh “jalan sunyi”. Tetapi pengharapan kita tidak pernah hilang karena Ia, sang Immanuel itu, senantiasa menyertai dan memampukan kita dalam membagikan damai-Nya di manapun dan kapanpun. Dengan demikian, kehadiran kita sebagai pembawa damai, niscaya diperlukan, baik dalam bentuk keteladanan dan pengajaran yang diwujudkan secara konsisten agar damai sejahtera yang sejati dapat diteruskan kepada semua umat manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Selamat Natal 2018 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2019.

 

MAJELIS SINODE GPIB

Ketua Umum                            : Pendeta Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si

Ketua  I                                    : Pendeta Marthen Leiwakabessy, S.Th.

Ketua   II                                  : Pendeta Drs. Melkisedek Puimera, M.Si

Ketua  III                                  : Pendeta Ny. Maureen Suzanne Rumeser-Thomas, M.Th.

Ketua  IV                                  : Penatua Drs. Adrie Petrus Hendrik Nelwan

Ketua  V                                   : Penatua Mangara Saib Oloan Pangaribuan, SE.

Sekretaris Umum                    : Pendeta Jacoba Marlene Joseph, M.Th.

Sekretaris   I                            : Pendeta Ny. Elly Dominggas Pitoy-de Bell, S.Th.

Sekretaris  II                            : Penatua Ny. Sheila Aryani Lumempouw – Salomo, SH.

Bendahara                               : Penatua Ronny Hendrik Wayong, SE.

Bendahara    I                          : Penatua Eddy Maulana Soei Ndoen, SE.