DOA LABIRIN ADALAH ZIARAH HIDUP

Bagian II

Doa labirin sebenarnya dimaknai sebagai perziarahan hidup. Hidup adalah sebuah perjalanan dan kita tidak dapat menyangkal bahwa perjalanan hidup itu panjang dan penuh liku. Ada saatnya suka, ada juga duka, ada saatnya tertawa dan ada saatnya juga menangis. Bentuk labirin yang berliku menggambarkan miniatur perjalanan hidup itu sendiri. Ketika kita berjalan memasuki labirin menuju pusat, sesungguhnya tindakan itu menggambarkan bagaimana kita datang kepada Sang Pusat[1] (Allah pemilik hidup) ditengah pergumulan dan tantangan hidup.

Dalam pandangan teologi, labirin bisa melambangkan beberapa hal: jalan keras dan berliku menuju kepada Allah; sebuah pemahaman spiritualitas kita untuk keselamatan dan pencerahan; atau bahkan dianggap sebagai ziarah ke Yerusalem bagi mereka yang tidak bisa melakukan perjalanan yang sebenarnya[2] (maksudnya perjalanan kehidupan Yesus Kristus yang dilahirkan untuk menyelamatkan kita). Pada saat ini, banyak pula gereja-gereja protestan melakukan doa labirin ini sebagai bagian dari kegiatan yang menjalin kembali hubungan umat dengan Allah. Contohnya di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Bintaro Utama Tangerang Selatan, GPIB Bethesda Sidoarjo, dan beberapa gereja lainnya, juga komunitas-komunitas kristen protestan melaksanakan Doa Labirin ini.

Ketika kita telah ada dipusat dan bertemu dengan Tuhan dalam iman dan doa kita, maka disitulah kita akan mengalami pemulihan. Setelah kita melewati perenungan melalui doa dalam labirin, kita akan teruskan dengan berefleksi dengan media (kaca, paku, benang, pasir, dll). Media-media ini digunakan untuk menyadarkan diri kita dalam keterbatasan kita dalam dunia. Kita ingin melihat pengorbanan kristus di kayu salib yang membawa sebuah pembaharuan dalam diri kita. Menerima bahwa keberadaan diri kita ini sementara, dan harus mempergunakan hidup yang adalah kesempatan ini dengan baik dan berguna. Menyatukan konsep pemulihan diri di dalam doa mediatif  membuat kita sadar bahwa kita adalah umat yang telah dipilih dan tugas kita adalah membawa damai bagi seluruh dunia. Namun, menjadi pembawa damai harus dimulai dari HATI. Pada akhirnya, kita dapat melakukan tiga hal dalam kehidupan kita yaitu; Restorasi diri (hati & pikiran), pemulihan hubungan bersama Allah, dan pembaharuan diri untuk membawa damai. Kita akan masuk dalam masa perayaan Paskah, lalu apa hubungannya dengan doa labirin?  (tunggu diwarta selanjutnya yaa…).

 (By: VIK. I.S.)


[1] Unit Peribadahan STT Jakarta, Doa labirin, Seminar, STT Jakarta. 20 November 2015.

[2] Rodney Castleden, The Knossos Labyrinth: A new view of the ‘Palace of Minos’ at Knossos, (London: Routledge, 2003).